Penataan Nilai Perawat dan Kasus yang Terjadi di Indonesia

Image

Pandangan masyarakat kepada perawat pada saat ini dalam dunia kesehatan masih kurang baik. Banyak masyarakat yang merasa kurang puas dengan layanan yang telah di berikan oleh seorang perawat. Banyak sekali kasus yang terjadi di rumah sakit. Kebanyakan rumah sakit negeri yang ada di Indonesia sendiri. Image perawat juga masih sangat kurang baik.

Apakah yang salah dengan hal ini? Apakah seorang perawat masih belum kompeten di bidangnya?  Apakah jumlah perawat di Indonesia belum mencukupi?
Hal tersebut tidaklah jauh-jauh dari permasalahan si perawat itu sendiri.Seorang perawat haruslah mengerti dan memahami Peran,Fungsi serta Kode etik perawat tersebut. Seorang perawat haruslah mengerti bahwa dia harus memberikan asuhan keperawatan yang tepat, yang tidak merugikan sang pasien. Dalam hal ini kita sebagai seorang perawat profesional harus mengerti kondisi dari pasien tersebut, dengan demikian kita sebagai perawat akan mampu menjalankan kewajiban kita dengan lapang dada dan tanpa pamrih.

Beberapa kondisi yang harus di pahami seorang perawat untuk merawat pasien adalah perawat haruslah memahami bahwa sang pasien masuk dalam kondisi sakit, mereka dalam kodisi tidak nyaman dan sangat frustasi, disini perawat harus mengerti dengan kondisi nya, seorang perawat profesional harus bisa menjadi tempat perlindungan bagi pasien tersebut dan dengarkan keluhan mereka berikan sebuah motivasi dan simpatik untuk mereka sehingga motivasi sembuh untuk pasien tersebut dapat meningkat.Tidak hanya itu, kita sebagai perawat juga harus memberikan Action, salah satu nya adalah melakukan pengecekan tanda-tanda vital pasien, mungkin tindakan dasar tersebut akan memberikan respon positif dari pasien dan keluarga nya.

Penataan nilai Perawat Care, Empathy, dan Altruism di berbagai pihak rumah sakit haruslah  ditingkatkan lagi. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa seorang perawat memiliki fungsi dan peranan yang berbeda dengan dokter. Perawat harus lah bersifat Caring. Tidak hanya memiliki sifat Sympathy melainkan harus Empathy . Penataan nilai tersebut haruslah dimulai sejak awal ini.

Contoh kasus yang sering terjadi di rumah sakit adalah kelalaian.

KASUS :
Tn.T umur 55 tahun, dirawat di ruang 206 perawatan neurologi Rumah Sakit AA, tn.T dirawat memasuki hari ketujuh perawatan. Tn.T dirawat di ruang tersebut dengan diagnosa medis stroke iskemic, dengan kondisi saat masuk Tn.T tidak sadar, tidak dapat makan,  TD: 170/100, RR: 24 x/mt, N: 68 x/mt. Kondisi pada hari ketujuh perawatan didapatkan Kesadaran compos mentis, TD: 150/100, N: 68, hemiparese/kelumpuhan anggota gerak dextra atas dan bawah, bicara pelo, mulut mencong kiri. Tn.T dapat mengerti bila diajak bicara dan dapat menjawab pertanyaan dengan baik tetapi jawaban Tn.T tidak jelas (pelo). Tetapi saat sore hari sekitar pukul 17.00 wib terdengar bunyi gelas plastik jatuh dan setelah itu terdengar bunyi seseorang jatuh dari tempat tidur, diruang 206 dimana tempat Tn.T dirawat.  Saat itu juga perawat yang mendengar suara tersebut mendatangi dan masuk ruang 206, saat itu perawat mendapati Tn.T sudah berada dilantai dibawah tempat tidurnya dengan barang-barang disekitarnya berantakan.
Ketika peristiwa itu terjadi keluarga Tn.T sedang berada dikamar mandi, dengan adanya peristiwa itu keluarga juga langsung mendatangi tn.T, keluarga juga terkejut dengan peristiwa itu, keluarga menanyakan kenapa terjadi hal itu dan mengapa, keluarga tampak kesal dengan kejadian itu. Perawat dan keluarga menanyakan kepada tn.T kenapa bapak jatuh, tn.T mengatakan ”saya akan mengambil minum tiba-tiba saya jatuh, karena tidak ada pengangan pad temapt tidurnya”, perawat bertanya lagi, kenapa bapak tidak minta tolong kami ” saya pikir kan hanya mengambil air minum”.
Dua jam sebelum kejadian, perawat merapikan tempat tidur tn.T dan perawat memberikan obat injeksi untuk penurun darah tinggi (captopril) tetapi perawat lupa memasng side drill tempat tidur tn.T kembali. Tetapi saat itu juga perawat memberitahukan pada pasien dan keluarga, bila butuh sesuatu dapat memanggil perawat dengan alat yang tersedia.
Contoh kasus diatas merupakan salah satu bentuk kasus kelalaian dari perawat dalam memberikan asuhan keperawatan, seharusnya perawat memberikan rasa aman dan nyaman kepada pasien (Tn.T). Rasa nyaman dan aman salah satunya dengan menjamin bahwa Tn.T tidak akan terjadi injuri/cedera, karena kondisi Tn.T mengalami kelumpuhan seluruh anggota gerak kanan, sehingga mengalami kesulitan dalam beraktifitas atau menggerakan tubuhnya.
Pada kasus diatas menunjukkan bahwa kelalaian perawat dalam hal ini lupa atau tidak memasang pengaman tempat tidur (side drill) setelah memberikan obat injeksi captopril, sehingga dengan tidak adanya penghalang tempat tidur membuat Tn.T merasa leluasa bergerak dari tempat tidurnya tetapi kondisi inilah yang menyebabkan Tn.T terjatuh.
Bila melihat dari hubungan perawat – pasien dan juga tenaga kesehatan lain tergambar pada bentuk pelayanan praktek keperawatan, baik dari kode etik dan standar praktek atau ilmu keperawatan. Pada praktek keperawatan, perawat dituntut untuk dapat bertanggung jawab baik etik, disiplin dan hukum. Dan prinsipnya dalam melakukan praktek keperawatan, perawat harus menperhatikan beberapa hal, yaitu: Melakukan praktek keperawatan dengan ketelitian dan kecermatan, sesuai standar praktek keperawatan, melakukan kegiatan sesuai kompetensinya, dan mempunyai upaya peningkatan kesejaterahan serta kesembuhan pasien sebagai tujuan praktek.

Maka dari itu, penataan nilai keperawatan yang care,empathy dan altruism sangat dibutuhkan dalam praktek keperawatan.

 

Advertisements

Caring

Pengertian Caring
1. Miller(1995) : Tindakan disengaja yang membawa rasa aman baik fisik dan emosi serta keterikatan yang tulus dengan orang lain atau sekelompok orang.

2. Gadow (1984) dan Noddings (1984) : caring dapat melibatkan tindakan atau komunikasi verbal,dapat juga tidak. kebanyakan tindakan caring dapat berupa on tindakan, sebagaiman yang diinginkan klien.

care

Caring dapat meningkatkan aktualisasi diri, mendukung pertumbuhan individu, menjaga martabat dan nilai manusia, membantu penyembuhan diri dan mengurangi distress. Dipihak lain, “caring” mugkin tidak membawa hasil yang nyata, caring mungkin bukan merupakan sarana untuk mencapai tujuan, melainkan dianggap sebagai tujuan itu sendiri. kebaikan Caring sering ditemukan dalam proses caring itu sendiri, yakni keterikatan dan hubungan.

Caring meliputi tindakan asistif, supertif dan fasilitatif yang ditujukan bagi individu atau kelompok yang memiliki kebutuhan yang nyata atau telah ada.

Kozier, Barbara.2010. Fundamental Keperawatan Edisi 7. Jakarta. EGC

Tata Nilai Perawat Care, Empathy, altruism

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahhirrahmanirrahim

Puji dan syukur, tak lupa saya haturkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya, sehingga saya dapat menyelesaikan blog ini dengan tepat waktu.
Tak lupa pula shalawat dan salam kita hadiahkan kepada nabi besar kita Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari zaman kebodohan ke zaman yang berilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan saat ini.

Pada kesempatan kali ini, saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Iyus Yosep, Skp., Msi.,Msc selaku bapak koordinator mata kuliah Personality Development, yang telah memberikan tugas terstruktur dengan membuat sebuah weblog. Semoga blog ini tidak hanya sekedar tugas yang dikerjakan untuk memenuhi nilai dalam mata kuliah Personality Development, melainkan dapat memberikan tambahan informasi dan ilmu pengetahuan terutama untuk kita semuanya. Amin.

Tata Nilai Perawat : Care, Empathy, Altruism

Nilai

Nilai adalah keyakinan atau perilaku yang terus dimiliki seseorang dan dipilih secara bebas mengenai kemaknaan seseorang, benda, ide, atau tindakan. Contoh dari nilai : kebebasan, keberanian, keluarga, dan martabat.

Nilai sangat penting karena mempengaruhi keputusan dan tindakan, termasuk pengambilan keputusan etik keperawatan. Nilai sosial adalah nilai yang dianut oleh suatu masyarakat, mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh masyarakat.

Nilai dalam konteks keperawan terdiri atas : nilai pribadi dan nilai profesional

  1. Nilai pribadi
    Seseorang individu mengambil nilai dari masyarakat dan menganutnya sebagai nilai pribadi. Individu membentuk nilai masyarakat untuk merasa diterima dan perlu nilai pribadi utntuk memiliki rasa individualitas.
  2. Nilai profesional
    Nilai profesional perawat didapat selama sosialisasi dengan dunia keperawatan berdasarkan kode etik, pengalaman keperawatan, pemnimbingan dan rekan sebaya.

Watson (1981,hlm.20-21) menjabarkan empat nilai penting dalam keperawatan yaitu :

  1. Komitmen yang kuat terhadap layanan
  2. Menghargai harkat dan martabat setiap orang
  3. Komitmen terhadap pendidikan
  4. Otonomi peofesional

Selain itu, American Association of Colleges of Nursing ( AACN,1998) mengidentifikasi lima nilai penting bagi perawat profesional yaitu :

  1. Altruisme
  2. Otonomi
  3. Martabat manusia
  4. Integritas
  5. Keadilan sosial.

Care

      Care merupakan suatu tindakan yang didasari kepada keprihatinan terhadap masalah orang lain. Dalam dunia keperawatan tidak akan pernah asing lagi dengan yang namanya care. Seorang perawat dituntut untuk care atau peduli terhadap masalah yang diderita oleh sang pasien. Care merupakan kunci sukses seorang perawat. Caring merupakan kunci perawat mengamalkan ilmunya, sehebat apapun seseorang mempunyai ilmu kalau tidak mempunyai caring, ilmu itu menjadi tidak bermanfaat.

Human care merupakan hal yang mendasar dalam teori caring. Menurut Pasquali dan Arnoid (1989) serta Watson (1979), human care terdiri dari uapaya untuk melindungi, meningkatkan, dan menjaga atau mengabdikan rasa kemanusiaan dengan membantu orang lain mencari arti dalam sakit, penderitaan, dan keberadaannya serta membantu orang lain untuk meningkatkan pengetahuan dan pengendalian diri.

Sikap seorang perawat yang berhubungan dengan care adalah :

  1. Kehadiran
  2. Sentuhan Kasih sayang
  3. Mendengarkan Klien

Holding Hands with Elderly Patient

Empathy  

Empathy merupakan respons afektif atau kognitif yang kompleks pada distes emosional orang lain. Empathy termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah dan mengambil perspektif orang lain.

Menurut Karl Albrecht (2005), kecerdasan sosial terdiri atas lima aspek yaitu : situational awareness, presence,authenticity, clarity,empathy. Jadi, seorang perawat haruslah memiliki sifat empathy, tidak hanya sekedar simpaty. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, bahwa sifat empathy dan simpaty tersebut jauhlah berbeda. Simpaty hanya sekedar merasakan keadaan emosional sesorang tampa mencari solusi dari permasalahan tersebut. Maka dari itu seorang perawat haruslah memiliki sifat empathy terhadap pasien.

Cara untuk meningkatkan rasa empathy ;

  1. Peduli (menjalin komunikasi yang baik antara perawat dengan pasien.
  2. Berlatih untuk meningkatkan kemampuan bersikap empati.
  3. Berbagi pengalaman.
  4. Sosialisasi tumbuh dengan adanya kesadaran hati dan perasaan untuk membantu orang lain.,

empathy

Altruism

Pengertian

Altruism berasal dari bahasa Latin alteri huic yang berarti “ untuk orang lain “ dan definisi harfiah : “ untuk mengekspresikan penghargaan pada orang lain sebagai sebuah prinsip dalam melakukan tindakan” (Oxford English Dictionary). Altruism dapat juga diartikan sebagai perhatian terhadap keselamatan dan kesejahteraan orang lain. Dalam praktik profesional, altruism tecermin dalam perhatian perawat terhadap kesejahteraan pasien, perawat lain, dan penyedia layanan kesehatan.
Perilaku profesional yaitu :

  1. Menunjukkan pemahaman terhadap budaya, keyakinan, dan pandangan orang lain
  2. Menjadi advokat bagi pasien, terutama pasien yang paling rapuh
  3. Mengambil resiko demi kepentingan pasien dan rekan sejawat.

Catatan : dari The Essentials of Baccalaureate Education for Profesional Nursing Practice (hlm.8-9), Ammerican Association of Colleges of Nursing, 1998, Washington, Dc : Author.Atas izin.

Perilaku Altruistik

Altruisme kadang sulit untuk dihargai secara sempurna karena abstrak dan tidak dapat dinyatakan secara jelas, dan secara normal terjadi pada tingkat pikiran tidak sadar. Dalam teori psikologi masih terus berlangsung debat tentang faktor-faktor yang memotivasi dibalik tingkah laku altruistik. Penelitian Davis (1983) menyatakan sebuah korelasi langsung antara sejumlah respons manusia yang lumrah terhadap tingkah laku altruistik. Respons ini termasuk ekspresi simpati ( perhatian umum pada orang lain), dan tanggung jawab sosial ( contohbya hubungan kekeluargaan dalam keluarga).

Altruisme sebagai filosofi perawatan kesehatan

Hill dan Bramley menyatakan bahwa iri hati, kebailkan dari altruisme. Hill dan Bramley lebih mengingatkan bahwa usaha pemerintah untuk mengurangi penyediaan perawatan kesehatan secara substansial dapat menghasilkan keadaan sosial yang tidak nyaman. Pernyataan ini memberikan sebuah alternatif untuk altruisme Barry melalui argumen kotak suara, yaitu : pelayanan tidak disediakan sebagai wujud dari perhatian yang berhubungan dengan pilihan untuk anggota masyarakat yang lemah, tetapi lebih sebagai keluar dari ketakutan dan sebagai mekanisme untuk kontrol sosial. Pada saat ini, altruisme adalah motivasi untuk kebutuhan terhadap keadilan dan perawatan kesehatan.

4 6 10 Altruism helps save image

Daftar Pustaka

Kozier, Barbara. 2010. Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC

—Perry, Potter.2009.Fundamental of Nursing Buku 1 Edisi 7.Jakarta: Penerbit Salemba Medika

Gormley, Kevin. 2006. Teori dan Praktik Keperawatan. Jakarta: EGC

Bevis, E.and watson,J (1989), Towards a caring curriculum : a new pedagogy for nursing. New York, National League for Nursing

Kitson, A, (1987), Raisting standards of clinical a practice : the fundamental issue of effective nursing practice. Journal of Advanced Nursing,12,321-329.

Id.wikipedia.org

Dwidiyanti, M. 2007. Caring : kunci sukses perawat . Semarang: Hasani

Koening,K.2006. Praktik Keperawatan Profesional : konsep dan perspektif. Jakarta: EGC